Memasuki bulan Februari 2026 bursa saham masih bergejolak oleh berbagai isu mulai dari geopolitik hingga peringatan oleh lembaga riset internasional terkait transparansi pasar saham dan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tingginya harga energi juga memicu ekspektasi bahwa ekonomi akan pulih. Kondisi ini memang menarik untuk melakukan investasi namun investor tetap harus memiliki tujuan yang salah satunya adalah mengalahkan inflasi yang terus merangkak naik.

Salah satu prinsip dasar dari investasi adalah untuk mempersiapkan kebutuhan pada masa depan dengan menyisihkan sebagian kekayaan kita. Investasi diperlukan karena bila uang kita hanya didiamkan saja akan tergerus oleh inflasi yaitu kenaikan harga barang dan jasa. Umumnya saat pertumbuhan ekonomi tinggi inflasi juga akan naik sebaliknya inflasi cenderung rendah saat pertumbuhan ekonomi melambat. Dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi tahun ini yang tinggi oleh pemerintah maka investor harus siap dengan inflasi yang juga menanjak. Untuk itu salah satu tantangan investor adalah mampu menempatkan dananya pada instrumen yang imbal hasilnya melebihi inflasi agar nilai kekayaannya bertambah.

Seberapa besarkah inflasi di Indonesia dalam 10 tahun terakhir? Merujuk pada data BPS (Biro Pusat Statistik) dalam 10 tahun terakhir inflasi tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2023 yang mencapai 5,3% dan inflasi terendah pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,6%. Secara rata-rata inflasi tahunan dalam 10 tahun terakhir adalah 2,9% dan bila diakumulasikan maka pertumbuhan inflasi 10 tahun terakhir adalah 32%. Inflasi 10 tahun terakhir cenderung rendah secara historis karena pertumbuhan ekonomi juga melambat.

Dari data di atas kita bisa mengasumsikan bahwa tantangan bagi investor adalah harus bisa mengembangkan dananya minimal sebesar 32% dalam 10 tahun hanya untuk menjaga nilai kekayaan dan daya beli tidak berkurang.

Lalu investasi apa yang dapat dimanfaatkan oleh investor untuk mengalahkan inflasi? Dalam artikel kali ini kita akan coba melihat instrumen pasar modal serta emas dan deposito. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

""


Dari hasil pengamatan dapat dilihat 10 tahun terakhir investasi pada deposito sesuai suku bunga penjaminan LPS setelah dipotong pajak dapat mempertahankan daya beli masyarakat namun harap diingat bahwa data inflasi BPS sebetulnya merupakan akumulasi dari 11 komponen, adapun 3 inflasi tertinggi dalam 10 tahun terakhir terjadi pada komponen pendidikan yang mencapai 50%, perawatan pribadi & kesehatan 44%, makanan minuman dan tembakau mencapai 42%. Adapun komponen dengan inflasi terendah adalah informasi komunikasi dan jasa keuangan yang sekitar 11%. Dengan demikian bila tujuan Anda adalah menjaga nilai uang Anda terhadap pangan, pendidikan dan kesehatan imbal hasil deposito saja tidak cukup.

Untuk tumbuh dalam jangka panjang maka instrumen yang dapat mengalahkan inflasi yaitu emas yang harganya naik sekitar 4 kali lipat dalam 10 tahun, namun perlu dipahami bahwa rally harga emas baru terjadi di tahun 2024 didorong oleh krisis geopolitik dan kebijakan perang dagang Amerika Serikat. Bila Anda memegang emas selama 10 tahun dari 2012-2022 harganya bahkan hanya naik 4%.

Instrumen yang lebih konsisten seperti reksadana pendapatan tetap sebesar 82% disusul IHSG yang memiliki kinerja sebesar 79%. Investasi pada obligasi pemerintah memberikan imbal hasil 77% setelah dipotong pajak juga unggul melawan inflasi. Yang cukup mengejutkan adalah rata-rata reksadana saham dan campuran masih kalah dari inflasi ini artinya sebagian besar manajer investasi masih belum optimal dalam mengelola portofolio nya. Sebagai investor maka harus sangat selektif dalam memilih produk reksadana.

Sebagai tambahan mungkin investor juga bertanya-tanya apakah hanya “segitu” imbal hasil investasi 10 tahun di Indonesia? Tentu saja tidak angka di atas adalah rata-rata dari instrumen saham ataupun reksadana. Sebagai gambaran berikut 5 juara saham anggota indeks LQ45 dengan kinerja 10 tahun terbaik di Indonesia:


""

DSSA adalah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan listrik dan perdagangan batubara, rally sahamnya sendiri baru dimulai di tahun 2023 dan mencapai puncaknya ketika saham ini masuk ke dalam indeks MSCI. BRPT adalah perusahaan di bidang petrokimia dan energi, INKP perusahaan yang bergerak di bidang kertas, ANTM & MDKA bergerak di bidang emas. Rally kedua saham ini mengikuti rally harga emas. Investor yang beruntung memiliki dan memegang kelima saham di atas kekayaannya tumbuh berlipat. Pun demikian harap diingat tidak ada jaminan kinerja di atas akan terulang salah pilih saham dapat mengakibatkan uang investor hilang.

Bagi yang belum memiliki investasi jangan berkecil hati tidak ada kata terlambat untuk memulai investasi bisa dimulai dengan memiliki reksadana pasar uang yang relatif aman dan tetap mampu mengalahkan inflasi.

Happy Investing!