Tahun 2026 merupakan "black swan" dalam investasi pasar modal Indonesia. Sebagai investor pasar modal, tentu kita pernah menghadapi berbagai gejolak seperti perang dagang, kenaikan harga minyak, perubahan kebijakan pemerintah, konflik geopolitik,pelemahan kurs, hingga rebalancing indeks global. Namun kali ini semuanya datang berbarengan. Perang dagang Amerika Serikat kembali memanas, harga minyak melonjak oleh eskalasi konflik Iran, pemerintah Indonesia mengeluarkan serangkaian perubahan kebijakan signifikan mulai dari fiskal, hukum hingga tata niaga ekspor komoditas SDA, sementara rebalancing indeks MSCI memangkas bobot Indonesia dari 1,15% ke 0,5% dalam waktu empat bulan saja. Belum pernah kita mengalami kombinasi tekanan sebanyak ini sekaligus dalam satu periode.

Sebagai akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dalam. Pada perdagangan Jumat 5 Juni 2026 IHSG sempat menyentuh 5.692 secara intraday, melemah cukup dalam dari titik tertinggi sepanjang masa di 9.134 yang dicapai pada 20 Januari 2026. Berbagai sentimen negatif menjadi pemicunya, mulai dari pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus rekor terendah, rebalancing indeks MSCI yang memangkas bobot Indonesia, kekhawatiran fiskal dalam negeri, hingga eskalasi konflik geopolitik global. Namun demikian koreksi dalam bukanlah sesuatu yang aneh di bursa saham. Selama bertahun-tahun pasar saham Indonesia berkali-kali menghadapi tekanan serupa, dan hingga kini bursa Indonesia selalu dapat kembali atau rebound.

Pun demikian seberapa jauh bursa dapat terkoreksi? Kejadian terburuk sepanjang tahun 2026 hingga saat ini adalah ketika IHSG ambles sebesar 36,07% dari titik tertinggi sepanjang masa di 9.134 pada 20 Januari 2026 menuju titik terendah, yang terjadi dalam kurun 136 hari perdagangan, pada Jumat 5 Juni 2026 IHSG ditutup 5.594 Dengan kata lain, bila Anda berinvestasi pada IHSG dan kebetulan masuk di titik tertinggi serta keluar di titik terendah, Anda akan buntung sebesar 38,75%. Kerugian maksimal yang mungkin terjadi pada suatu periode ini dalam istilah investasi dikenal sebagai Maximum Drawdown (MDD). Dalam 20 tahun terakhir data kejatuhan IHSG dapat dilihat dalam tabel berikut.

""

Dapat dilihat bahwa walaupun umumnya indeks mengalami return positif, namun selalu ada potensi bagi investor yang "kurang beruntung" untuk mengalami kerugian setiap tahun bila membeli pada saat harga tertinggi dan "cut loss" setelahnya pada harga terendah. Bila dirata-rata dalam 20 tahun terakhir, IHSG selalu dapat jatuh sebesar 19% dari titik tertingginya, dengan durasi rata-rata sekitar 82 hari perdagangan. Tahun 2026 hingga 5 juni Dengan MDD 38,75% dan durasi koreksi 136 hari, tahun ini sudah masuk dalam jajaran tiga koreksi terburuk dalam 20 tahun terakhir, melebihi kejatuhan akibat pandemi Covid-19 di tahun 2020 (-37,75%) dan hanya kalah dari krisis subprime mortgage 2008 (-60,73%), bila kepercayaan investor terus memburuk bukan tidak mungkin sejarah terulang.

Walaupun angka kerugian di atas terlihat mengerikan, investor saham tetap perlu melihat horizon investasi jangka panjang. Bila kita melihat pola historis, justru tahun-tahun setelah MDD ekstrem yang sering menjadi titik balik. Setelah kejatuhan -60,73% di tahun 2008, IHSG meroket 86,98% di tahun 2009. Setelah MDD -38,82% di tahun 2002, IHSG mencatatkan return 62,82% di tahun 2003. Bahkan setelah pandemi Covid-19 yang membawa MDD -37,75% di tahun 2020, IHSG kembali bertumbuh 10,08% di tahun 2021. Pola ini menunjukkan bahwa selama fundamental ekonomi membaik dan para emiten masih dapat menghasilkan profit dari menjalankan usahanya, maka selalu ada potensi untuk rebound. Namun demikian, Pemulihan IHSG biasanya datang ketika ada katalis konkret seperti pemangkasan suku bunga, perbaikan data fundamental ekonomi, perubahan kebijakan yang lebih pro investasi atau berakhirnya tekanan jual mekanis dari rebalancing indeks global. Investor perlu sabar menunggu titik balik tersebut

Saat ini valuasi pasar yang sudah berada di level sangat murah. Price Earning Ratio (PER) Indeks LQ45 sebagai kumpulan 45 saham yang dianggap paling likuid saat ini berada di kisaran 10x, jauh di bawah rata-rata historis 20 tahun terakhir yang ada di sekitar 15x. Kondisi ini menyiratkan investor sedang berada dalam fase pesimistis ekstrem.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan investor saham saat ini? Untuk investor long term, koreksi sebesar ini bisa menjadi peluang untuk akumulasi saham-saham fundamental kuat secara bertahap. Pepatah "fortune favors the brave" cukup tepat untuk menggambarkan situasi ini. Mengingat volatilitas masih dapat terjadi dalam beberapa tahun ke depan, strategi yang lebih bijak adalah masuk secara bertahap atau menerapkan averaging down secara disiplin pada saham-saham fundamentalnya terbukti tahan banting. Sedangkan untuk investor konservatif yang memiliki kebutuhan dana dalam waktu dekat, koreksi yang dalam ini menjadi pengingat penting bahwa saham bukan instrumen yang tepat untuk dana jangka pendek. Disiplin manajemen risiko, termasuk penerapan cut loss point yang konsisten merupakan kunci dalam investasi saham.

Satu hal yang pasti, investor tidak perlu panik. Investasi yang sedang turun selalu memiliki potensi untuk naik kembali. Sejarah pasar saham Indonesia mencatat dengan jelas, setelah badai berlalu IHSG selalu mampu bangkit seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan laba perusahaan yang melantai di bursa. Yang dibutuhkan investor saat ini adalah strategi yang sesuai dengan profil risiko, disiplin dalam manajemen risiko, dan kesabaran untuk menanti titik balik. Koreksi yang dalam memang menyakitkan, namun bagi investor yang siap, justru di sinilah peluang jangka panjang terbuka lebar. Happy Investing!