Maaf, Untuk Menggunakan Website Ini Silakan Akftifkan Javascript


Lupa Password ?



Menakar Pengaruh Inflasi Pada Kinerja Investasi
Terbit Sabtu, 18-May-2013 di Koran Seputar Indonesia

Bank Indonesia (BI) akhirnya kembali memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% yang sudah bertahan sejak Febuari 2012 walaupun tren inflasi tahunan per Maret 2013 terus memanas hingga menyentuh 5,90%. Selama tiga tahun terakhir, kondisi inflasi tahunan saat ini untuk kedua kalinya melebihi BI Rate. Pertama kali terjadi per Desember 2010 di mana BI Rate saat itu berada di level 6,5% sementara inflasi tahunan bertengger di level 6,96%. Dengan demikian, keadaan tersebut menjadi sinyal kurang baik bagi penempatan dana di Pasar Uang karena tergerus oleh efek inflasi.

Terdapat dua hal yang diperkirakan turut banyak mempengaruhi lonjakan inflasi sepanjang kuartal I-2013. Di antaranya seperti rencana pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15% secara bertahap dan masalah lonjakan harga pangan, seperti daging sapi dan bawang. Belum lama kedua isu tersebut berlalu, ada isu hangat lain yang tidak kalah penting dan masih dalam tahap pembahasan, yakni dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi oleh pemerintah.

Isu tersebut cukup penting karena kekhawatiran dampaknya paling terlihat berupa potensi lonjakan inflasi yang lebih tinggi sekaligus memicu kemungkinan kenaikan suku bunga di Pasar Uang. Walaupun wacana kenaikan harga BBM hanya diperuntukan untuk kendaraan berplat nomor warna hitam, namun efek penggunaan kendaraan tersebut yang banyak digunakan dalam dunia usaha, seperti jasa distribusi tentu dapat mempengaruhi kenaikan harga produksi barang maupun jasa. Pada akhirnya, kenaikan inflasi pun tidak dapat terelakkan.

Dalam mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga ditengah inflasi yang semakin memanas, sebenarnya seberapa besar dampak perubahan suku bunga terhadap kinerja investasi di Pasar Modal domestik? Sebelumnya, perlu diketahui mengapa suku bunga berpeluang naik jika inflasi terus melonjak. Kenaikan inflasi yang tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat sehingga dengan nilai Rupiah yang sama, kuantitas barang yang diperoleh menjadi lebih sedikit. Jadi, untuk melindungi daya beli tersebut yang berpotensi hilang karena inflasi, maka suku bunga di Pasar Uang pun perlu dinaikkan untuk menjaga suku bunga riil yang mencerminkan daya beli masyarakat.

Secara teori umum, suku bunga berbanding terbalik dengan imbal hasil investasi di Pasar Modal, baik saham maupun obligasi. Misalnya, jika tren suku bunga cenderung naik atau bertahan di level tinggi, umumnya tren indeks Pasar Modal (saham dan obligasi) cenderung mengalami tekanan atau koreksi. Sebaliknya, jika tren suku bunga cenderung turun atau bertahan di level rendah, umumnya tren indeks Pasar Modal cenderung mengalami kenaikan atau apresiasi. Mengapa demikian?

Jika terjadi kenaikan suku bunga, maka dari sisi pendanaan yang berasal dari pinjaman (utang) tentunya akan terimbas mengingat suku bunga pinjaman pun berpeluang naik sekaligus membuat biaya pendanaan menjadi relatif lebih mahal serta rencana ekspansi perusahaan berpotensi menjadi kurang maksimal. Selanjutnya, margin laba perusahaan pun dapat tergerus dan pertumbuhan menjadi lambat karena peningkatan biaya pendanaan dari utang. Jika itu terjadi terus menerus hingga mempengaruhi prospek perusahaan tersebut, tidak dapat dipungkiri kondisi tersebut bakal berdampak negatif terhadap harga sahamnya.

Sementara bila dikaitkan dengan alternatif investasi, tren suku bunga yang cenderung naik berpotensi membuat investor mengalihkan sebagian dana investasinya ke instrumen Pasar Uang, seperti Deposito karena dianggap bebas dari resiko fluktuasi dari nilai aset. Akibatnya, nilai investasi di Pasar Modal pun menjadi berkurang dan nilai indeks Pasar Modal (saham maupun obligasi) menjadi turun. Di samping itu, kenaikan suku bunga aset bebas resiko yang menjadi komponen dalam penentuan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) atau tingkat diskonto dalam mengevaluasi harga wajar suatu aset investasi Pasar Modal, seperti saham tentu memberikan dampak negatif karena semakin tinggi tingkat diskonto dari suatu saham, maka harga wajar suatu saham akan menjadi lebih rendah. Hal tersebut membuat daya tarik suatu saham menjadi berkurang jika potensi kenaikan harga pasar saham tersebut menuju harga wajarnya menyusut akibat penurunan nilai wajar.

Meskipun dalam bayang-bayang inflasi yang terus memanas dan berpotensi memicu kenaikan suku bunga di Pasar Uang, namun investor di Pasar Modal Indonesia tak perlu berkecil hati karena bentuk-bentuk pengaruh negatif dari inflasi tersebut dapat diminimalisasi. Hanya saja, investor harus lebih jeli dalam memilih instrumen investasi di Pasar Modal yang memiliki eksposur rendah terhadap pergerakan inflasi domestik.

Pada investasi saham, investor dapat melirik sektor-sektor saham dengan kinerja historis dengan korelasi negatif yang paling besar terhadap inflasi, bahkan positif. Maksudnya, saat inflasi cenderung naik, pada umumnya kinerja indeks sektor saham berpotensi mengalami tekanan. Namun untuk meminimalisasi dampak buruk inflasi terhadap portofolio saham, investor dapat memilih sektor-sektor saham dengan tingkat korelasi negatif paling besar. Sementara pada investasi obligasi, investor dapat menentukan alternatif jenis obligasi yang memiliki kinerja relatif kuat terhadap gejolak inflasi, apakah itu obligasi korporasi atau pemerintah (Surat Utang Negara/SUN).

Dari pengamatan penulis selama Januari 2005 hingga Maret 2013 dengan menggunakan data return bulanan dari 9 sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan 2 indeks obligasi yang dibuat Infovesta, yakni indeks obigasi pemerintah (Infovesta Government Bond Index/IGBI) dan indeks obligasi korporasi (Infovesta Corporate Bond Index/ICBI), diperoleh angka korelasi terhadap inflasi bulanan (month on month/MoM) pada tabel berikut.

IGBI

ICBI

Sektor Keuangan

Sektor Aneka Industri

Sektor Perdagangan

Sektor Pertambangan

Sektor Properti

Sektor Infrastuktur

Sektor konsumsi

Sektor Industri dasar & kimia

Sektor Pertanian

0.038

-0.115

-0.232

-0.14

-0.131

-0.117

-0.115

-0.037

-0.043

-0.079

-0.001

Dari tabel di atas, pada investasi obligasi terlihat bahwa saat inflasi dalam tren naik, maka dampaknya paling dirasakan oleh rata-rata kinerja obligasi korporasi melalui ICBI (Infovesta Corporate Bond Index) ketimbang dengan IGBI (Infovesta Government Bond Index). Hal ini dikarenakan gejolak inflasi yang diperkirakan dapat mempengaruhi kinerja para emiten obligasi korporasi, terlebih pada kemampuan mempertahankan margin dan meningkatkan pertumbuhan laba.

Sementara pada investasi saham, saat inflasi dalam tren naik, maka dampaknya paling dirasakan oleh sektor saham keuangan dan aneka industri. Hal itu dikarenakan dengan inflasi yang kian meninggi maka akan mempengaruhi suku bunga BI sehingga jika bunga BI naik ini akan berpotensi untuk meyebabkan nilai kredit macet naik. Untuk sektor aneka industri seperti manufaktur, naiknya inflasi akan menaikan juga terhadap dana pinjaman yang tadinya munkin digunakan untuk ekspansi ataupun lainnya sehingga menggerus kinerja laba perusahaan. Sementara sektor saham yang memiliki eksposur terhadap gejolak inflasi paling rendah berdasarkan statistik korelasi tersebut, yakni sektor pertanian, sektor infrastruktur, dan sektor konsumsi, hal ini karena biasanya sektor ini lebih terpengaruh oleh tingkat konsumsi masyarakat dan juga lebih kearah perekonomian global akibat export import.

Dengan mencermati hal-hal tersebut, investor tidak perlu terlalu khawatir dan bisa menjadi lebih bijak dalam menentukan keputusan investasi di Pasar Modal meskipun dalam bayang-bayang tren inflasi domestik yang menanjak. Happy Investing!

[ Giovany Lukman ]
Radio PAS FM Jakarta