17-10-2012 | Harian Seputar Indonesia
Berinvestasi Saham Gaya CANSLIM
Oleh: Viliawati – Research Analyst www.infovesta.com

Dalam dunia investasi, pemilihan saham berdasarkan fundamental dapat dibagi menjadi dua metode yaitu Value Investing dan Growth Investing. Dengan Value Investing, investor umumnya akan membandingkan harga wajar suatu saham dengan harga saham di bursa (harga pasar) saat ini. Sementara dengan metode Growth Investing, investor akan mencari saham yang memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi (Growth Stock).

Nah, berbicara mengenai Growth Investing, CANSLIM merupakan salah satu metode Growth Investing yang ditemukan oleh William J. O’Neil melalui penelitiannya terhadap saham-saham yang berkinerja baik secara historis. Dalam hasil penelitiannya, disimpulkan bahwa saham-saham yang berkinerja baik memiliki kesamaan dalam beberapa hal yang disingkat menjadi CANSLIM. Berikut adalah kriteria-kriteria saham dalam metode CANSLIM.

C (Current Quarterly Earnings). Emiten dari saham terpilih harus memiliki kenaikan laba bersih minimal 25% dibanding kuartal sama tahun lalu serta didukung oleh kenaikan penjualan minimal 25%. A (Annual Earning Increases). Maksudnya, kenaikan laba bersih emiten per akhir tahun ini bila dibandingkan dengan laba bersih akhir tahun sebelumnya minimal 25%. Kriteria ini juga mempertimbangkan imbal hasil atas ekuitas (Return on Equity/ROE) dengan angka minimal 17%. ROE merupakan perbandingan antara Laba Bersih terhadap Total Ekuitas.

N (New Products, New Management, New High). Emiten yang memiliki ekspektasi pertumbuhan tinggi biasanya memiliki rencana peluncuran produk atau jasa baru. Tak hanya itu, kabar pergantian manajemen yang dianggap akan membawa perbaikan bagi kinerja keuangan emiten juga berpeluang menopang harga sahamnya. S (Supply and Demand). Saham dengan jumlah saham beredar (outstanding shares) yang relatif sedikit berpeluang lebih cepat mengalami perubahan harga.

L (Leader or Laggard). Pemisahan saham yang tergolong Leader dan Laggard menggunakan Price Relative Strength, yaitu teknik membandingkan kinerja harga saham terhadap saham-saham lain. Saham Leader merupakan saham dengan Price Relative Strength minimal 70. Artinya, kinerja saham tersebut mampu mengalahkan 70% dari sekumpulan saham dalam suatu indeks alias terdapat 30% saham dengan kinerja tertinggi.

I (Institutional Sponsorship). Suatu emiten saham dianggap berpeluang berkinerja lebih baik jika dimiliki oleh minimal dua atau tiga investor institusi. M (Market Direction). Kriteria ini menyarankan agar investor juga mencermati prospek bursa saham ke depan karena saat kondisi pasar tidak mendukung, maka kinerja harga sahamnya berpotensi mengalami penurunan.

Bagaimana penerapan CANSLIM pada saham-saham dalam indeks Kompas 100? Untuk itu, penulis menggunakan data fundamental historis emiten selama Desember 2008 hingga Desember 2011. Karena metode CANSLIM tidak mewajibkan penyeleksian saham secara berurutan dari C hingga M, maka supaya lebih ringkas, langkah pertama adalah dengan menyeleksi saham berdasarkan kriteria L (Leader or Laggard). Dengan kriteria Price Relative Strength minimal 70, terpilih 30 saham yang memiliki persentase kenaikan harga terbesar sejak akhir Desember 2010 hingga akhir 2011.

Kedua, seleksi saham pada kriteria C (Current Quarterly Earnings) dan A (Annual Earning Increases). Kriteria yang digunakan adalah rata-rata pertumbuhan Penjualan dan Laba Bersih dalam 4 kuartal terakhir di tahun 2011 terhadap periode sama tahun sebelumnya, angka pertumbuhan Laba Bersih yang disetahunkan (Annualized Net Income) untuk periode Desember 2008 hingga Desember 2011, dan ROE (Return On Equity) per akhir 2011. Dengan kriteria ini, diperoleh 6 saham.

Ketiga, untuk kriteria S (Supply dan Demand), saham-saham yang terpilih adalah yang memiliki jumlah saham beredar di bawah rata-rata jumlah saham beredar dalam  indeks Kompas 100. Dengan kriteria ini, diperoleh 5 saham. Keempat, seleksi saham pada struktur kepemilikan, yaitu kriteria I (Institutional Sponsorship). Dalam hal ini, penulis mensyaratkan minimal terdapat 2 investor institusi dalam kepemilikan emiten. Dengan kriteria ini, diperoleh 5 saham.

Kelima, saham yang lolos seleksi sebelumnya tentu juga didukung adanya sesuatu yang baru, baik produk baru, manajemen baru, ataupun harga saham tertinggi baru. Misalnya, PT. Lippo Cikarang Tbk (LPCK) dengan proyek baru bernama Greenwood Tahap 2. Terakhir, prospek bursa saham Indonesia sendiri yang masih cerah karena didukung solidnya fundamental ekonomi domestik serta kinerja emiten-emiten saham di BEI, kebijakan makroekonomi yang ekspansif, serta level IHSG yang saat itu belum mahal dengan target wajar sepanjang 2012 di level 4.360.

Dari semua proses seleksi di atas, diperoleh lima saham berikut, seperti IMAS (Indomobil Sukses International Tbk), LPCK (Lippo Cikarang Tbk), MAIN (Malindo Feedmill Tbk), SSIA (Surya Semesta Internusa Tbk), dan SMMA (Sinar Mas Multiartha Tbk). Bagaimana kinerja kelima saham tersebut jika dibentuk menjadi portofolio bobot sama dan dibandingkan dengan kinerja IHSG dan Kompas 100 selama 31 Maret hingga 28 September 2012?

Indeks Saham

Return 31 Maret – 28 September 2012

Portofolio CANSLIM

25,13%

IHSG

3,42%

Kompas 100

1,90%

Dari tabel tersebut terlihat jelas bahwa kinerja portofolio saham metode CANSLIM mampu naik 25,13% sejak akhir Maret hingga akhir September 2012 jauh di atas kinerja indeks acuan, seperti IHSG dan Kompas 100 yang masing-masing naik 3,42% dan 1,90%. Fantastis bukan? Yang menarik lagi, portofolio CANSLIM tersebut hanya terdiri dari 5 saham yang berasal dari 4 sektor saham berbeda, yaitu Properti, Industri Pakan Ternak, Aneka Industri, dan Lembaga Pembiayaan. Cukup kontras bila dibandingkan dengan indeks Kompas 100 yang terdiri dari 9 sektor saham.

Jika dilihat lebih mendalam, terdapat 2 saham yang mengalami kenaikan di atas 40% (MAIN dari sektor Pakan Ternak dan LPCK dari sektor Properti). Mengapa demikian? Menurut penulis, prospek cerah dari sektor masing-masing saham diperkirakan menjadi pemicu, di samping IHSG sendiri yang juga mencetak kinerja positif. Prospek sektor Properti dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan hunian modern di kota-kota besar dan permintaan lahan untuk kebutuhan industri. Sementara prospek sektor Pakan Ternak dipengaruhi oleh permintaan konsumsi daging unggas, terutama pada musim Hari Raya.

Dengan gaya CANSLIM, investor pun bisa fokus berinvestasi pada saham-saham dengan fundamental emiten yang baik sekaligus mencermati arah momentum pasar saham ke depan di samping melakukan diversifikasi. Happy investing!

Harian Seputar Indonesia

Investor Daily

Harian KONTAN

Majalah Asosiasi Dana Pensiun Indonesia

Majalah Investor

Artikel Lainnya

Maret 2013 | Majalah Asosiasi Dana Pensiun Indonesia
Oleh: Praska Putrantyo – Research Analyst www.infovesta.com

Mengejar Momentum Laporan Keuangan

13-02-2013 | Harian KONTAN
Oleh: Praska Putrantyo – Research Analyst www.infovesta.com

Menakar Prospek Reksa Dana 2013

05-02-2013 | Harian SINDO
Oleh: Viliawati – Research Analyst www.infovesta.com

Teknik Sederhana Menentukan Alokasi

Desember 2012 | Majalah Asosiasi Dana Pensiun Indonesia
Oleh: Praska Putrantyo – Research Analyst www.infovesta.com

Prospek Investasi Pasar Modal Tahun 2013

20-12-2012 | Harian KONTAN
Oleh: Viliawati – Research Analyst www.infovesta.com

Investment Universe Lewat Indeks saham