Apa Itu Investasi?
Posted on January 30, 2008 by Dev Group on Research & Util
INVESTASI
- Pengertian
Secara harafiah, investasi adalah penyimpanan uang dengan tujuan memperoleh return yang diharapkan lebih besar dibanding bunga deposito untuk memenuhi tujuan yang ingin dicapai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan dan sesuai dengan kemampuan akan modal. Atau dapat diartikan juga sebagai suatu pengorbanan dalam bentuk penundaan pengeluaran sekarang untuk memperoleh keuntungan (return) yang lebih baik di masa datang.
Dengan kata lain yang lebih simple/sederhana, investasi adalah cara seseorang untuk mengelola uangnya baik itu dengan dibelikan property, ditabung atau ditanam ke dalam suatu usaha dengan tujuan mendapat keuntungan setelah masa/periode yang ditentukan sebelumnya.
- Bentuk-bentuk
investasi
Dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa bentuk investasi yang kita ketahui, di antaranya yaitu :
- Investasi property
Investasi property ini dapat berupa penanaman sejumlah uang dalam bentuk property, hal yang paling lazim biasa dilakukan adalah dalam bentuk emas, rumah ataupun tanah.
- Investasi ekuitas
Investasi ekuitas ini umumnya berhubungan dengan pembelian dan menyimpan
saham stok pada suatu pasar modal
oleh individu dan dana dalam mengantisipasi pendapatan dari deviden
dan keuntungan modal
sebagaimana nilai saham meningkat. Hal tersebut juga kadang kadang berkaitan
dengan akuisisi saham (kepemilikan) dengan turut serta dalam suatu perusahaan
swasta (tidak tercatat di bursa) atau perusahaan baru ( suatu perusahaan sedang
dibuat atau baru dibuat). Ketika investasi dilakukan pada perusahaan yang baru,
hal itu disebut sebagai investasi modal
- Resiko
Investasi
Biasanya, ada 3 resiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka akan melakukan investasi, yaitu :
- Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang
paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah uang saya
akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau
ditanya seperti itu. Karena tidak ada orang yang mau kehilangan uangnya. Akan
tetapi, setiap investasi pasti ada resikonya. Perbedaannya hanya pada ukurannya.
Sekarang jika Anda berinvestasi, kita
harus mempertimbangkan seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda
tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 20 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian
yang bersedia Anda tanggung, ingatlah bahwa itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan
terus-menerus untung. Yang disebut dengan kerugian, sesekali memang harus kita alami.
Karena dengan adanya kerugian, itu adalah pengalaman yang membuat kita jadi
lebih banyak belajar dalam berinvestasi.
- Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
Resiko kedua
yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang
dibelinya itu mudah untuk dijual/diuangkan kembali. Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke
dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga
orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat
dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka
kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang
akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum,
beberapa bank seringkali tidak mau menerima atau membeli mata uang asing Anda
bila kondisi uang secara fisik robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak
selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang koleksi. Barang-barang
koleksi umumnya tidak mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang
ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, yaitu
mereka yang hobi akan lukisan juga, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi,
sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang
lumayan bagi orang yang menjualnya.
Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, sebaiknya ketahui lebih
dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai
Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit
dijual.
- Hasil Investasi yang Diberikan Tidak
Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Bayangkan jika Anda berinvestasi di deposito yang
memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan
jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu
tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu
sendiri belum tentu sesuai.
Mungkin beberapa dari Anda menginginkan produk
investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil
Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang
dan jasa. Kalau itu terus
Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi
risiko ini? Jangan menutup
diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin
belum Anda ketahui, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan
mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi
tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang
memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding
kenaikan harga barang.
- Cara
Mengurangi Resiko Investasi
Untuk
mengurangi resiko, cara termudah adalah berinvestasi di berbagai sarana
investasi. Cara ini disebut dengan membuat portofolio investasi. Tujuan dari
cara ini adalah mengurangi kerugian investasi yang mungkin timbul dari suatu
sarana investasi dengan menutupnya menggunakan keuntungan yang diperoleh dari
sarana investasi yang lain. Misalnya
berinvestasi pada reksa dana dan pada tabungan. Jika keduanya memberikan
keuntungan maka investor tidak akan menderita kerugian. Tetapi bagaimana jika
salah satunya mengalami kerugian, misalnya nilai reksa dana turun atau bank
dilikuidasi? Dengan adanya portofolio ini maka diharapkan kerugian salah satu
investasi dapat dikurangi oleh keuntungan dari investasi lain. Kalau dua-duanya
rugi, berarti itu cobaan jika investor menggunakan investasi secara syariah dan
mungkin peringatan atau bahkan azab jika investasi tersebut tidak sesuai
syariah.
Jadi inti mengurangi resiko investasi
adalah portofolio : “jangan meletakkan banyak telur dalam satu keranjang”
karena jika terjatuh, maka telur akan lebih banyak yang pecah dibandingkan jika
ditaruh pada beberapa keranjang jika keranjang yang lain tidak jatuh.
- Produk
Investasi
Secara umum, produk investasi dikelompokkan berdasarkan hasilnya menjadi 2 golongan yaitu:
· Produk Investasi Pendapatan Tetap (fixed income investment), yaitu produk investasi yang sudah pasti memberikan pendapatan (biasanya disebut bunga), dan uang yang Anda diinvestasikan tidak akan berkurang nilainya. Contoh : Deposito dan Tabungan di Bank.
·
Produk
Investasi Pertumbuhan (growth income investment), yaitu produk investasi yang tidak
memberikan hasil pasti berupa bunga, tetapi hanya memberikan hasil apabila
dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Contoh : saham, emas, rumah, barang-barang koleksi, mata uang asing. Risiko
produk seperti ini adalah uang yang Anda investasikan bisa berkurang nilanya
apabila produk investasi itu dijual dengan harga yang lebih rendah dibanding
dengan harga ketika Anda membelinya.
- Proses
Keputusan Investasi
Proses Keputusan Investasi merupakan keputusan yang berkesinambungan (on going process) dengan tahap-tahap sbb:
· Penentuan Tujuan berinvestasi
Dalam penentuan tujuan berinvestasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu jangka waktu investasi (pendek/panjang), berapa target return yang mau dicapai.
· Penentuan Kebijakan Investasi
Investor harus mengerti karakter risiko (risk profile) masing- masing apakah seorang yang mau mengambil risiko atau menghindari risiko, berapa banyak dana yang akan diinvestasikan, fleksibilitas investor dalam waktu untuk memantau investasi, pengetahuan akan pasar modal.
· Pemilihan strategi portofolio dan asset
Setelah mengetahui hal-hal pada point 1 dan 2 di atas maka kita dapat membentuk suatu portofolio yang diharapkan efisien dan optimal.
· Pengukuran dan evaluasi kinerja portofolio
Mengukur kinerja portofolio yang telah dibentuk, apakah sudah sesuai dengan tujuan. Alat untuk mengukur kinerja portofolio ada 3 yang cukup populer yaitu Sharpe’s measures, Treynor’s measures dan Jensen measures.
- Komoditas
Komoditas berkaitan dengan saham perusahaan-perusahaan yang memproduksi bahan-bahan mentah seperti minyak bumi, emas, perak dan logam-logam dasar, seperti almunium, tembaga dan seng.