Sejak Pandemi Covid-19 menghantam dunia dan mendorong banyak negara memasuki masa resesi industri pasar modal teruatama pasar saham terhantam, namun demikian kelas aset lain seperti emas dan juga cryptocurrency seperti Bitcoin (BTC) justru melonjak signifikan mencermati hal ini tentu bagi investor menjadi menarik untuk diversifikasi ke aset tersebut. Mengingat katalis utama kenaikan harga aset alternatif tersebut adalah kekhawatiran atas krisis pandemi sebetulnya bagaimanakah pergerakan harganya dalam jangka yang lebih panjang?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, jika konteks emas dilihat dari kacamata investasi tentu akan fokus pada aspek pergerakan harganya karena emas dan Bitcoin tidak memiliki penghasilan tambahan seperti bunga atau dividen. Harga emas di dunia umumnya di jual per troy ounce (oz), 1 oz sekitar 31.1 gram. Pada tahun 2000 harga emas sekitar USD 260/oz yang mencapay rekor tertinggi pada tahun 2011 yang mencapai USD 1900/oz sebelum turun hingga dibawah USD 1100/oz di tahun 2016. Di tahun 2020 harga emas akhirnya menembus rekor USD 2000/oz di Agustus 2020 dan di tahun 2021 ini bergereak di kisaran USD 1700 USD/oz

Sedangkan Bitcoin sebagai aset kripto mulai dikenal di tahun 2008, sebagai aset yang tergolong baru harga bitcoin sempat mencapai rekor tertinggi USD 19000 /BTC pada tahun 2017 terkoreksi hingga USD 3000 di tahun 2018 dan semenjak pandemi terus meningkat hingga level USD 50.000 /BTC di tahun 2021 ini.

Pergerakan harga emas dan BTC yang relatif cepat tersebut tentu menarik, namun bila membandingkan investasi emas dengan investasi pasar modal. Mana diantara instrument investasi tersebut yang dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih optimal?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan melakukan pengamatan terhadap perbandingan kinerja investasi emas dengan instrument Indeks Harga Saham Gabungan dan Obligasi Negara.

Pengamatan terhadap kinerja dari masing-masing instrument investasi dilakukan dengan melakukan perbandingan Return Berbasis Risiko (Risk Adjusted Return) dari setiap instrument investasi tersebut. Semakin tinggi nilai Risk Adjusted Return menunjukkan bahwa kinerja dari instrument investasi tersebut semakin “optimal” bila dibandingkan dengan instrument investasi lainnya.

Dalam pengamatan kali ini, ada 3 periode kinerja yang akan di amati yaitu 1 tahun dan 5 tahun. Alasan dari pemilihan periode kinerja tersebut adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perbandingan kinerja dari investasi emas dan pasar modal dalam kurun waktu yang lebih pendek (1 tahun) dan investasi dalam kurun waktu yang relatif panjang (5 tahun).

Selain perbandingan kinerja dilakukan juga pengukuran terhadap korelasi dari kinerja masing-masing instrument terhadap IHSG untuk melihat potensi pergerakan dari masing-masing

instrument investasi. Semakin besar korelasi dari instrument investasi terhadap IHSG menunjukkan bahwa kedua investasi tersebut memiliki pergerakan yang searah. Semakin kecil korelasi menunjukkan bahwa pergerakan antara kedua instrumen investasi tersebut tidak searah atau bahkan dapat berlawanan arah. Aset yang tidak searah ideal untuk diversifikasi



""


Dari tabel di atas terlihat bahwa saat pandemi menghantam kinerja pasar saham, kinerja obligasi pemerintah tidak mengalami penurunan sifnifikan, sementara BTC dan Emas di tahun pandemi secara kinerja diatas pasar modal.

Sebagai perbandingan dalam 5 tahun terakhir rata-rata suku bunga deposito sesuai LPS adalah 5.1% setelah pajak. Sehingga dalam 5 tahun terakhir memang instrumen saham memiliki kinerja dibawah deposito. Pun demikian bila investor mencari investasi yang paling optimal dari 4 instrumen diatas maka juaranya adalah obligasi negara dengan nilai Risk Adjusted Return yang tinggi ditambah dengan jaminan oleh pemerintah Indonesia. Meski dengan tinggi nya RAR BTC mungkin patut dipertimbangkan kelas aset ini dapat dijadikan aset yang boleh dibeli reksadana dengan batasan yang ketat.

Kinerja kinclong emas dan BTC sangat didorong oleh ketidakpastian akibat pandemi COVID-19, secara historis ketika kondisi ekonomi dunia membaik harga emas akan cenderung turun. Investor yang saat ini membeli emas dan BTC harus siap bila emas berganti tren menurun di tahun depan. Dari sisi risiko juga dapat dilihat standar deviasi tahunan BTC jauh lebih tinggi hampir 3x dari saham maupun emas, Artinya pemegang BTC harus siap bila harganya terjun 70-80% dalam 1 tahun dimana secara historis hal ini sering terjadi.

Hal yang menarik dari emas dan BTC adalah rendahnya korelasi dengan IHSG, yaitu dibawah 2% dalam jangka 5 tahun. Hal tersebut berarti 2 aset ini merupakan pilihan yang menarik sebagai instrument diversifikasi karena penyebab pasar saham turun tidak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan 2 aset ini. Instrumen berbasis pendapatan tetap juga sebenarnya dapat menjadi sasaran sebagai instrument diversifikasi dari investasi berbasis saham namun korelasinya dengan IHSG lebih besar walau secara risiko jauh lebih kecil.

Kesimpulannya, sebagai instrument investasi, emas adalah salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan bila tujuannya untuk diversifikasi. Namun harap diingat kinerja diatas mengasumsikan tidak ada biaya tambahan ketika menyimpan emas. Pada kenyataanya produk tabungan emas yang saat ini dapat diakses dengan mudah di marketplace memiliki beberapa batasan seperti adanya biaya titipan pertahun, minimum pencairan 5 gram yang dapat dijual kepada pihak pegadaian dengan kurs yang berlaku atau dicetak dengan tambahan biaya cetak. Serta batasan transaksi harian maksimal 100gram.

Sedangkan untuk BTC harus benar-benar berhati hati dalam penyimpanan digital wallet nya, karena seiring peningkatan harga BTC upaya pencurian melalui hacking terhadap marketplace Cryptocurrency juga meningkat

Setiap instrumen memiliki karakteristik, potensi keuntungan dan risiko, investor diharapkan untuk memilih instrumen investasi sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing.

Happy Investing