ETF, singkatan dari Exchange Traded Fund, adalah suatu instrumen investasi bertipe reksadana yang berbentuk Kontrak Investasi Kolektif. ETF dikelola oleh Manajer Investasi dan juga menitipkan dananya pada Bank Kustodian. Anda tentu merasa bahwa definisi tersebut sangat mirip dengan Reksadana. Namun apa yang membuat ETF berbeda dengan Reksadana?

Tujuan Investasi reksadana pada umumnya dibuat dengan tujuan untuk mengalahkan indeks yang menjadi acuan (IHSG. LQ45 ataupun IDX30) namun ETF dibuat dengan tujuan untuk meniru kinerja dari suatu indeks. Dengan kata lain, ETF tidak berusaha untuk mengalahkan pasar (beat the market), namun ETF berusaha untuk menjadi pasar (be the market).

Perbedaan berikutnya adalah pada perdagangan Unit penyertaannya, Reksadana pada umumnya dapat dibeli lewat Manajer Investasi ataupun lewat agen penjual yang ditunjuk. Sedangkan unit penyertaan dari ETF diperdagangkan secara bebas pada bursa saham seperti layaknya saham dengan satuan lot (per 100 lembar). Harga dari unit penyertaan Reksadana dihitung satu kali setiap penutupan hari dan dinyatakan berdasarkan nilai aktiva bersih dari reksadana tersebut, sedangkan harga dari ETF dapat bergerak sesuai dengan permintaan pasar. Karena ETF diperdagangkan di bursa saham, maka harga unit penyertaan ETF dapat berubah-ubah selama waktu perdagangan bursa.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa pada dasarnya ETF merupakan suatu instrumen investasi tersendiri dan tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu golongan instrumen investasi, baik saham maupun reksadana. ETF boleh dibilang adalah membeli kumpulan saham. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah: Mengapa di pasar modal asing, ETF sangat diminati? Apa yang membuatnya menarik?

Karakteristik utama yang membuat ETF menjadi sangat menarik di mata investor adalah fungsi Index Tracking yang dimiliki ETF. Fungsi Index Tracking tersebut memungkinkan seorang investor untuk berinvestasi pada suatu indeks yang diinginkannya secara mudah dan murah. Sebagai contoh, seorang investor menginginkan investasi pada portofolio yang kinerjanya menyerupai indeks IDX30. Namun untuk dapat melakukan hal tersebut, investor tersebut harus membeli seluruh saham yang termasuk dalam daftar IDX30 dan menyesuaikan komposisi saham-saham dalam portofolio tersebut sehingga menjadi sama dengan IDX30. Hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan dan tentu saja memerlukan modal yang cukup besar. Bila investor tersebut tetap pada keinginannya untuk memiliki portofolio yang serupa dengan IDX30, maka hal yang harus dilakukannya hanyalah membeli ETF yang mengikuti kinerja IDX30. Sangat sederhana.

Keunggulan lain yang dimiliki ETF adalah fleksibilitas dalam perdagangan unit penyertaan dimana unit penyertaan ETF dapat diperdagangkan seperti saham. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, ETF dibuat dengan tujuan untuk meniru kinerja dari suatu indeks (be the market). Oleh karena itu, ETF memberikan kesempatan bagi investor-investor untuk melakukan spekulasi terhadap pergerakan market cukup dengan melakukan trading ETF. Sebagai contoh, suatu saat Anda memperkirakan bahwa indeks IDX30 akan mengalami kenaikan. Anda ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperoleh keuntungan, namun kesulitan untuk menentukan saham-saham mana saja yang akan naik dan saham mana yang tidak naik atau justru turun. Maka salah satu cara yang mudah adalah dengan membeli ETF yang meniru kinerja indeks IDX30. Dengan melakukan hal tersebut, maka sudah dipastikan bahwa Anda akan memperoleh kinerja sesuai indeks tanpa perlu khawatir akan melakukan kesalahan dalam pemilihan saham.

Uraian-uraian diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya ETF adalah suatu instrumen investasi yang sangat menarik dan memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh instrumen-instrumen investasi yang lain. Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, maka ETF memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati investor-investor di Indonesia. Perkembangan ETF sendiri sempat lambat di awal penerbitanya, namun pertumbuhan dana kelolaan industri ETF tumbuh sangat pesat. Pada bulan Maret 2012 dana kelolaan industri ETF sebesar Rp. 651 Miliar, 3 tahun kemudian pada Maret 2015 dana kelolaan industri ETF tumbuh pesat menjadi Rp 3.287 Triliun atau tumbuh sebesar 4 kali lipat. Menariknya pertumbuhan ini justru dimotori oleh investor institusi yang memanfaatkan kemudahan membeli dan menjual ETF dipasar primer berupa unit kreasi ETF dalam jumlah besar untuk bertransaksi saham dengan fee yang relatif murah dan risiko terukur. Sedangkan secara umum transaksi dipasar sekunder untuk ETF transaksinya jarang dan kecil, artinya bagi investor yang dananya terbatas ETF justru belum menarik karena tidak likuid dalam artian mudah untuk dibeli tetapi relatif sulit untuk dijual. Namun demikian di indonesia industri pasar modal terus berkembang, ada baiknya Anda mulai melihat ETF sebagai alternatif diversifikasi investasi yang patut dipertimbangkan, terutama bagi yang memiliki dana besar. Selamat berinvestasi.

Happy Investing