Maaf, Untuk Menggunakan Website Ini Silakan Akftifkan Javascript

Beda DIRE & Reksa Dana

Apa Bedanya DIRE Dengan Reksa Dana?

1. Perbedaan DIRE Dengan Reksa Dana?

Meskipun DIRE berbentuk KIK dan strukturnya mirip dengan reksa dana, tetapi DIRE bukan reksa dana. Ada beberapa karakteristik khusus yang tidak sesuai dengan batasan reksa dana saat ini, contohnya reksadana diharamkan meminjam dana dari pihak lain untuk berinvestasi, sedangkan DIRE diperbolehkan untuk meminjam uang saat membeli aset real estat dengan syarat pinjaman tersebut tidak melebihi 30% dari nilai aset tersebut.

3. Apa yang Menjadi Keunggulan dari DIRE?

DIRE mempunyai keunggulan dalam perpajakan, di sejumlah negara DIRE tidak dikenakan pajak penghasilan pada tingkat perusahaan, misalnya perusahaan properti biasa apabila mendapat penghasilan dari menyewakan propertinya akan dikenakan pajak penghasilan tetapi tidak pada DIRE. Namun pendapatan berupa dividen yang diterima pemodal akan dikenakan pajak.

Namun untuk mendapat perlakuan khusus tersebut, ada beberapa batasan bagi DIRE. Batasan ini didasarkan pada pemikiran bahwa DIRE adalah investasi jangka panjang dan investasi pasif. Oleh karena itu DIRE tidak boleh bertindak seperti operating company, maksudnya DIRE dilarang untuk memperjual-belikan aset propertinya secara aktif dalam waktu yang singkat. Tetapi pembatasan DIRE sendiri berbeda-beda disetiap negara.

Tetapi di Indonesia sendiri belum ada kepastian mengenai pajak untuk DIRE.

SRBI: Yield Tinggi, Asing Kembali

03-Jul-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Hampir tiga tahun sejak diterbitkan pertama kali pada 15 September 2023, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah menjelma menjadi salah satu instrumen paling berpengaruh di pasar keuangan Indonesia. Dana yang terhimpun melonjak dari Rp 71,5 triliun pada akhir September 2023 menjadi Rp 979,9 triliun per 29 Mei 2026, dan diperkirakan menembus Rp 1.000 triliun di Juni 2026. Pada lelang terakhir 3 Juli 2026, imbal hasil rata-rata tertimbang untuk tenor 12 bulan mencapai 7,67%, jauh di atas suku bunga acuan BI Rate yang berada di 5,75%.


Piala Dunia dan Saham 2026

20-Jun-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Melihat judul di atas, tentu banyak yang bingung. Apakah hubungannya antara Piala Dunia dan saham? Sebelum menjawab pertanyaan ini, umumnya selalu menarik untuk melakukan prediksi atas jalannya Piala Dunia. Bahkan perusahaan sekuritas ternama dunia pun menerbitkan metode analisis berbasis kuantitatif yang dipergunakan untuk meramalkan siapa yang bakal menjadi kampiun dalam perhelatan akbar ini, walau tentunya akurasi model semacam ini sangat jarang tepat.


The Black Swan

06-Jun-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Tahun 2026 merupakan "black swan" dalam investasi pasar modal Indonesia. Sebagai investor pasar modal, tentu kita pernah menghadapi berbagai gejolak seperti perang dagang, kenaikan harga minyak, perubahan kebijakan pemerintah, konflik geopolitik,pelemahan kurs, hingga rebalancing indeks global. Namun kali ini semuanya datang berbarengan. Perang dagang Amerika Serikat kembali memanas, harga minyak melonjak oleh eskalasi konflik Iran, pemerintah Indonesia mengeluarkan serangkaian perubahan kebijakan signifikan mulai dari fiskal, hukum hingga tata niaga ekspor komoditas SDA, sementara rebalancing indeks MSCI memangkas bobot Indonesia dari 1,15% ke 0,5% dalam waktu empat bulan saja. Belum pernah kita mengalami kombinasi tekanan sebanyak ini sekaligus dalam satu periode.


Investasi Aman Untuk Pensiun

23-May-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Sudahkah anda mempersiapkan pensiun? Pertanyaan ini sering kali tertunda untuk dijawab karena merasa masa pensiun masih jauh, padahal justru semakin cepat dipersiapkan semakin ringan beban yang harus ditanggung. Salah satu instrumen yang dirancang khusus untuk tujuan ini adalah Dana Pensiun Lembaga Keuangan atau DPLK. Tidak hanya bermanfaat bagi pekerja, DPLK juga memberi nilai tambah bagi perusahaan yang mengikutsertakan karyawannya.


Reksadana Dollar Jadi Incaran

09-May-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Ditengah tren penguatan mata uang USD (United States Dollar) terhadap semua mata uang dunia termasuk Rupiah tentu menarik untuk berinvestasi dalam mata uang negara Amerika Serikat (AS) ini. Dengan potensi penurunan suku bunga The Fed yang lebih terbatas dan pertumbuhan ekonomi AS yang masih positif maka diperkirakan mata uang USD masih akan kuat dan bahkan dapat kembali terapresiasi, lalu bagaimana tren investasi dalam mata uang ini pada reksadana?


Klik Tautan Ini Untuk Melihat Artikel Lainnya...