Semester 1 Tahun 2018 ditutup kurang menggembirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merupakan barometer kinerja pasar saham di Indonesia terkoreksi 8.76% pada bulan akhir juni 2018, sementara itu kinerja Infovesta Goverment Bond Index (IGBI) yang merupakan barometer pertumbuhan obligasi pemerintah terkoreksi 2.58%. Bagaimana dengan kinerja industri reksadana Indonesia?

Tahun 2018 diawali dengan iklim investasi yang menarik karena dimulai dengan inflasi tahunan yang rendah di 3.25%, namun seiring dengan tren perbaikan ekonomi dunia dan tren kenaikan suku bunga di Amerika Serikat inflasi perlahan terus meningkat ke 3.41% y-o-y di akhir april 2018, sebelum akhirnya menurun lagi dan ditutup pada angka 3.12% pada Juni 2018. Gejolak inflasi awalnya tidak diiringi dengan kenaikan suku bunga ditengah upaya pemerintah untuk terus meningkatkan kredit dan konsumsi masyarakat, namun tekanan nilai tukar yang terus melemah memaksa Bank Indonesia menaikkan BI 7 Day Repo rate hingga 3 kali dari level 4.25% menjadi 5.25%. hal ini memicu penurunan harga yang masif pada instrumen obligasi negara dan saham

Seiring indeks harga saham gabungan yang terkoreksi kinerja reksadana saham justru lebih baik dari ekspektasi. Hingga Akhir Juni 2018 rata-rata reksadana saham ‘hanya’ terkoreksi 5.98% dengan reksadana saham terbaik membukukan return 32.3% dan yang terburuk mencatatkan kerugian -19%. Sementara pada reksadana pendapatan tetap berbasis rupiah, reksadana berbasis obligasi ini secara rata-rata terkoreksi sebesar 3.8%, dengan reksadana pendapatan tetap terbaik membukukan kinerja 6.6% dan yang terburuk sebesar -17%.

Sedangkan reksadana campuran yang isinya umumnya adalah perpaduan antara saham dan obligasi secara rata-rata terkoreksi sebesar 4% dengan reksadana campuran terbaik menghasilkan return sebesar 33% dan yang terburuk merugi sebesar -17%. Disusul oleh reksadana pasar uang yang secara rata-rata memberikan kinerja sebesar 1.9% dengan reksadana pasar uang terbaik memberikan return sebesar 4.5% dan yang terburuk sebesar -2%.

Hasil kinerja reksadana 2018 diatas berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana reksadana campuran,saham dan pendapatan tetap memberikan kinerja yang setara secara rata-rata sementara reksadana saham justru hanya memberikan kinerja hampir setengah dari IHSG. Berdasarkan data yang ada, tercatat 130 reksadana saham dari total 240 produk beredar (53%) yang telah terbit sejak awal tahun dapat membukukan return lebih tinggi dari IHSG. Mengacu pada kalkulasi data secara historis (periode 2003 – 2017), di mana secara rata-rata kurang dari 50% dari total produk reksadana saham yang dapat mengalahkan IHSG, data terbaru ini cukup positif karena rata-rata manajer investasi sudah dapat meracik portfolio yang kinerjanya lebh baik dari IHSG walau dalam kasus ini sebagian berupa kerugian yang lebih kecil dari IHSG. Meski demikian halini tetap harus diapresiasi mengingat kondisi pasar modal yang masih tertekan sentimen negatif perang dagang dan kenaikan suku bunga.

Disisi lain secara individual kinerja reksadana pasar uang masih menjadi yang terbaik dibanding jenis reksadana lainnya karena portfolionya yang banyak ditempatkan pada deposito sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh koreksi pasar modal akibat kenaikan suku bunga.

Walau secara kinerja negatif namun secara dana kelolaan industri tahun 2018 terus mencatatkan kenaikan. Per akhir Mei 2018 dana kelolaan total reksadana non pernyertaan terbatas mencapai Rp 478triliun, Komposisi 3 dana kelolaan terbesar masih dikuasai oleh industri reksadana saham sebesar Rp 146 triliun, disusul oleh reksadana terproteksi sebesar Rp 119 triliun dan reksadana pendapatan tetap sebesar Rp 105 triliun.

Dana kelolaan total sendiri tumbuh 8.8% dibanding dana kelolaan per akhir tahun 2017 sebesar Rp 440 triliun. Fenomena pertumbuhan tertinggi terjadi di industri reksadana ETF yang dana kelolaanya tumbuh 30% disusul oleh reksadana pasar uang kelolaanya tumbuh 20% dan reksadana indeks yang tumbuh 19%.

Di tahun 2018 ini industri reksadana kita memiliki harapan untuk kembali menguat seiring harapan pertumbuhan ekonomi yang baik, harapan yang tinggi atas realisasi pembangunan infrastruktur, rendahnya inflasi dan ekspektasi perbaikan harga komoditas yang menjadi katalis bagi pasar obligasi maupun saham. Namun demikian dunia juga masih dibayangi kenaikan suku bunga the fed yang dapat berimbas negative pada kinerja instrument berbasis obligasi serta perang dagang yang dapat berimbas pada kinerja emiten di Indonesia. Berkaca pada kinerja industri reksadana secara keseluruhan pada tahun 2018 maka terlihat preferensi investor melakukan penempatan dana baru lebih banyak ke jenis reksadana berbasis indeks dan ETF serta pada pasar uang. Manajer investasi tentunya diharapkan dapat mengakomodasikan tren ini. Namun demikian diversifikasi tetap penting karena tidak mungkin investor dapat menebak secara pasti reksadana jenis apa yang akan bersinar, maka tidak ada salahnya untuk meminimalkan risiko dengan menyebarkan dana pada jenis reksadana yang berbeda dengan tetap disesuaikan dengan tujuan finansial masing-masing.

Happy Investing