elihat judul di atas, tentu banyak yang bingung. Apakah hubungannya antara Piala Dunia dan saham? Sebelum menjawab pertanyaan ini, umumnya selalu menarik untuk melakukan prediksi atas jalannya Piala Dunia. Bahkan perusahaan sekuritas ternama dunia pun menerbitkan metode analisis berbasis kuantitatif yang dipergunakan untuk meramalkan siapa yang bakal menjadi kampiun dalam perhelatan akbar ini, walau tentunya akurasi model semacam ini sangat jarang tepat.

Piala Dunia dari masa ke masa selalu dibahas dari berbagai sisi, segala peristiwa dapat dikaitkan dengan Piala Dunia termasuk investasi saham. Ada anekdot yang menyebutkan bahwa umumnya investor saham akan puasa atau mengurangi porsi trading-nya karena lebih tertarik untuk mengikuti taruhan bola sehingga harga saham menjadi turun. Taruhan bola tentu saja ilegal di Indonesia tetapi saya yakin selalu dapat ditemukan taruhan ini di sekeliling Anda.

Dalam bahasa akademis, asumsi bahwa harga saham akan turun pada saat penyelenggaraan Piala Dunia disebut dengan istilah Market Anomaly atau anomali pasar. Benarkah teori bahwa ketika Piala Dunia digelar setiap 4 tahun, maka return saham juga akan turun? Untuk menjawab hal tersebut mari kita lihat data sebagai berikut:


""

Cukup menarik untuk menelaah data statistik di atas. Piala Dunia secara historis selalu diselenggarakan sekitar bulan Juni, dengan pengecualian edisi 2022 di Qatar yang digeser ke November dan Desember. Dalam 30 tahun terakhir, probabilitas IHSG merugi di bulan Juni adalah sekitar 43%. Namun bila dihitung selama periode penyelenggaraan Piala Dunia saja, probabilitas merugi naik menjadi 60% atau rugi 6 kali dari 10 kali penyelenggaraan, termasuk edisi Qatar 2022 yang membukukan return IHSG -3,81% sepanjang 20 November hingga 18 Desember 2022. Pola anomali ini secara umum masih konsisten.

Piala Dunia 2026 kali ini juga menjadi spesial dalam beberapa hal. Pertama, untuk pertama kali turnamen ini akan diselenggarakan di tiga negara sekaligus yaitu Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Kedua, jumlah peserta diperluas dari sebelumnya 32 tim menjadi 48 tim, sehingga jumlah pertandingan dan durasi turnamen juga bertambah. Ketiga, lokasi penyelenggaraan di Amerika Utara membuat sebagian besar pertandingan akan ditayangkan pada dini hari waktu Indonesia, mirip dengan pengalaman menonton Piala Dunia 1994 dan 2002. Hal ini berbeda dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang relatif ramah jadwal bagi penonton Indonesia. Pada Piala Dunia 2026, fans bola di Indonesia kemungkinan harus kembali begadang, dan secara tidak langsung produktivitas perdagangan saham di awal sesi pagi berpotensi terganggu.

Yang membuat Piala Dunia 2026 jauh lebih spesial dari edisi-edisi sebelumnya adalah kondisi pasar saham Indonesia yang sudah terkoreksi cukup dalam menjelang turnamen ini bergulir. IHSG ditutup di level 6.172,34 pada 18 Juni 2026, terkoreksi sekitar 32% sejak titik tertinggi sepanjang masa di 9.134 yang dicapai pada 20 Januari 2026. Berbagai sentimen negatif sepanjang tahun mulai dari perang dagang, kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, perubahan kebijakan pemerintah, hingga rebalancing indeks MSCI yang memangkas bobot Indonesia, telah membuat pasar saham domestik melemah jauh sebelum turnamen dimulai. Dengan kata lain, banyak hal buruk sudah ter-priced in pada level harga saat ini, sehingga ruang pelemahan lebih lanjut akibat efek Piala Dunia kemungkinan terbatas.

Bahkan beberapa katalis positif justru muncul berbarengan dengan periode Piala Dunia 2026. Pertama, valuasi pasar saham Indonesia sudah berada di level murah secara historis dengan P/E pasar di 10,15x per 18 Juni 2026, jauh di bawah rata-rata historis lima tahun terakhir di kisaran 14-15x. Kedua, MSCI berpotensi besar mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging, sehingga sumber ketidakpastian terbesar bagi investor global telah hilang. Ketiga, konsumsi domestik berpotensi terdongkrak selama periode turnamen, terutama untuk sektor barang konsumsi, media, dan telekomunikasi. Pendapatan iklan dari penayangan pertandingan juga berpotensi memberikan dorongan tambahan bagi emiten media.

Lalu apa kesimpulan dari paparan di atas? Pertama, teori bahwa IHSG akan selalu negatif pada saat penyelenggaraan Piala Dunia tidak selalu benar. Ada kalanya return IHSG positif dan ada kalanya pula return IHSG negatif. Kedua, untuk Piala Dunia 2026, kombinasi antara valuasi pasar yang sudah murah, selesainya krisis geopolitik Iran dan hilangnya tekanan reklasifikasi MSCI, dan dorongan konsumsi domestik berpotensi memberi tone yang berbeda dibanding edisi-edisi sebelumnya. Namun perlu diingat juga bahwa bola itu bulat, analogi yang sama juga berlaku dalam investasi saham. Hampir tidak mungkin meramalkan kinerja IHSG dalam jangka waktu yang sangat pendek apalagi hanya satu hingga dua bulan. Tetap berinvestasi sesuai dengan profil risiko dan horizon tujuan investasi Anda. Selamat berinvestasi sambil menonton Piala Dunia!