Maaf, Untuk Menggunakan Website Ini Silakan Akftifkan Javascript

Tipe Saham

Ada dua jenis saham yang jamak dipasarkan, yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock).

Saham biasa (common stock)

Saham biasa merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling yunior terhadap pembagian dividen dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi (tidak memiliki hak-hak istimewa). Karakteristik lain dari saham biasa adalah dividen dibayarkan jika perusahaan memperoleh laba.

Orang yang mempunyai saham memiliki hak untuk ambil bagian dalam mengelola perusahaan. Besar kecilnya hak suara yang dimiliki sesuai dengan besar kecilnya saham yang dimiliki, semakin banyak persentase saham yang dimiliki maka semakin besar hak suara yang dimiliki untuk mengontrol operasional perusahaan.

Pemegang saham biasa memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sesuai dengan proporsi saham dan mempunyai hak untuk mengalihkan kepemilikkan sahamnya kepada orang lain.

Saham preferen (preferred stock)

Saham preferen memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap seperti bunga obligasi.

Ada persamaan antara saham preferen dengan obligasi :

  • 1. Ada klaim atas laba dan aktiva sebelumnya
  • 2. Selama masa saham berlaku dividen akan tetap
  • 3. Memiliki hak tebus dan dapat ditukar dengan saham biasa

Saham preferen lebih aman dibandingkan saham biasa karena memiliki klaim terhadap kekayaan perusahaan dan pembagian dividen terlebih dahulu. Dan pemiliknya akan memiliki hak lebih dibanding hak pemilik saham biasa, contohnya hak suara dalam pemilihan direksi sehingga jajaran manajemen akan berusaha sekuat tenaga untuk membayar ketepatan pembayaran dividen preferen agar tidak lengser. Tetapi saham preferen sulit untuk diperjualbelikan seperti saham biasa karena jumlahnya sedikit.

Reksadana Pasar Uang: Primadona di Tengah Ketidakpastian 2026

25-Apr-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Tahun 2026 sudah memasuki kuartal ke-2. Tahun yang semula digadang-gadang positif untuk pasar modal seiring ekspektasi penurunan suku bunga dan perbaikan pertumbuhan ekonomi, ternyata berbeda dari perkiraan analis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year-to-date (YTD) per 23 April 2026 masih berada di teritori negatif 15% akibat tekanan geopolitik dan kekhawatiran atas fiskal Indonesia. Pun demikian, masih ada instrumen investasi yang menarik, salah satunya reksadana pasar uang.


Dana Kelolaan Industri Reksadana Kuartal I 2026

10-Apr-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Industri reksadana Indonesia mengalami tahun yang sangat dinamis di awal 2026. Setelah rally kuat sejak pertengahan 2025 dan mencapai all time high pada Februari 2026, dana kelolaan reksadana mengalami koreksi di bulan Maret. Meski secara year to date masih mencatat kenaikan, perubahan month to month menunjukkan adanya pergeseran perilaku investor yang cukup jelas.


Diversifikasi Sektor Saham

28-Mar-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Disaat IHSG sedang tertekan seperti saat ini tentu investor merasa khawatir bila investasi terus menurun, namun disisi lain terdapat potensi untuk rebound dan bisa saja investor ketinggalan kereta. Untuk itu diperlukan suatu strategi untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk yang dapat saja terjadi. Salah satunya adalah diversifikasi.


Selamat Datang Reksadana Emas

07-Mar-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Emas kembali menjadi primadona di tengah ketidakpastian global. Tensi geopolitik yang memanas dan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dunia dipicu oleh Perang Tarif dan tambahan krisis geopolitik di era kepemimpinan Donald Trump mendorong harga emas terus melonjak. Setelah menembus harga USD 2000 per troy ounce (oz) pada awal 2024, emas terus melaju hingga mencatat rekor baru di USD 5400/oz di awal 2026 atau naik 162%. Sempat mengalami koreksi, namun perang Amerika Serikat-Israel dan Iran kembali mendorong harga emas menuju level USD 5200/oz. Lalu, bagaimana emas bersaing dengan instrumen investasi lain seperti pasar modal? Dan apa cara terbaik bagi masyarakat untuk memanfaatkannya?


Berpacu Melawan Inflasi

21-Feb-2026, Oleh: Wawan Hendrayana

Memasuki bulan Februari 2026 bursa saham masih bergejolak oleh berbagai isu mulai dari geopolitik hingga peringatan oleh lembaga riset internasional terkait transparansi pasar saham dan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tingginya harga energi juga memicu ekspektasi bahwa ekonomi akan pulih. Kondisi ini memang menarik untuk melakukan investasi namun investor tetap harus memiliki tujuan yang salah satunya adalah mengalahkan inflasi yang terus merangkak naik.


Klik Tautan Ini Untuk Melihat Artikel Lainnya...