1. Apa Itu DIRE?
DIRE (Dana Investasi Real Estat) atau dikenal juga sebagai REIT (Real Estate Investment Trust) adalah salah satu sarana investasi baru yang secara hukum di Indonesia akan berbentuk KIK (Kontrak Investasi Kolektif).
DIRE diartikan sebagai kumpulan uang pemodal yang oleh perusahaan investasi akan diinvestasikan ke bentuk aset properti baik secara langsung seperti membeli gedung maupun tidak langsung dengan membeli saham/obligasi perusahaan properti.
DIRE diwajibkan menginvestasikan minimum 80% dari dana kelolaannya ke real estate dimana minimum 50%nya harus berbentuk aset real estate langsung.
2. Bagaimana Dengan Risikonya?
DIRE hanya bisa berinvestasi pada aset real estate karena itu kinerjanya sangat bergantung pada sektor properti. Maka beberapa hal mempengaruhi risiko, bisa dikarenakan :
Penyewa yang gagal bayar
Turunnya nilai property
Risiko likuiditas. Pada saat investor mencairkan dananya sehingga MI harus menjual asetnya, dimana menjual aset properti tidak selikuid menjual aset dipasar modal.
3. Apa saja yang Menjadi Batas Investasi DIRE?
a. Aset real estat, seperti membeli gedung perkantoran dan menyewakannya.
b. Aset yang berkaitan dengan real estat, seperti membeli saham/obligasi perusahaan property
c. Dalam bentuk kas atau setara kas
4. Peraturan Baru yang Dikeluarkan BAPEPAM-LK yang Berhubungan Dengan DIRE
a. Peraturan No IX.C.15 tentang pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum oleh Dana Invetasi Real Estat berbentuk Kontrak Investasi Kolektif
b. Peraturan No IX.C.16 tentang pedoman mengenai bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum DIRE
c. Peraturan No IX.M.1 tentang pedoman bagi MI dan bank kustodian yang melakukan pengelolaan DIRE
d. Peraturan No IX.M.2 tentang pedoman kontrak investasi kolektif DIRE
03-Jul-2026, Oleh: Wawan Hendrayana
Hampir tiga tahun sejak diterbitkan pertama kali pada 15 September 2023, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah menjelma menjadi salah satu instrumen paling berpengaruh di pasar keuangan Indonesia. Dana yang terhimpun melonjak dari Rp 71,5 triliun pada akhir September 2023 menjadi Rp 979,9 triliun per 29 Mei 2026, dan diperkirakan menembus Rp 1.000 triliun di Juni 2026. Pada lelang terakhir 3 Juli 2026, imbal hasil rata-rata tertimbang untuk tenor 12 bulan mencapai 7,67%, jauh di atas suku bunga acuan BI Rate yang berada di 5,75%.
20-Jun-2026, Oleh: Wawan Hendrayana
Melihat judul di atas, tentu banyak yang bingung. Apakah hubungannya antara Piala Dunia dan saham? Sebelum menjawab pertanyaan ini, umumnya selalu menarik untuk melakukan prediksi atas jalannya Piala Dunia. Bahkan perusahaan sekuritas ternama dunia pun menerbitkan metode analisis berbasis kuantitatif yang dipergunakan untuk meramalkan siapa yang bakal menjadi kampiun dalam perhelatan akbar ini, walau tentunya akurasi model semacam ini sangat jarang tepat.
06-Jun-2026, Oleh: Wawan Hendrayana
Tahun 2026 merupakan "black swan" dalam investasi pasar modal Indonesia. Sebagai investor pasar modal, tentu kita pernah menghadapi berbagai gejolak seperti perang dagang, kenaikan harga minyak, perubahan kebijakan pemerintah, konflik geopolitik,pelemahan kurs, hingga rebalancing indeks global. Namun kali ini semuanya datang berbarengan. Perang dagang Amerika Serikat kembali memanas, harga minyak melonjak oleh eskalasi konflik Iran, pemerintah Indonesia mengeluarkan serangkaian perubahan kebijakan signifikan mulai dari fiskal, hukum hingga tata niaga ekspor komoditas SDA, sementara rebalancing indeks MSCI memangkas bobot Indonesia dari 1,15% ke 0,5% dalam waktu empat bulan saja. Belum pernah kita mengalami kombinasi tekanan sebanyak ini sekaligus dalam satu periode.
23-May-2026, Oleh: Wawan Hendrayana
Sudahkah anda mempersiapkan pensiun? Pertanyaan ini sering kali tertunda untuk dijawab karena merasa masa pensiun masih jauh, padahal justru semakin cepat dipersiapkan semakin ringan beban yang harus ditanggung. Salah satu instrumen yang dirancang khusus untuk tujuan ini adalah Dana Pensiun Lembaga Keuangan atau DPLK. Tidak hanya bermanfaat bagi pekerja, DPLK juga memberi nilai tambah bagi perusahaan yang mengikutsertakan karyawannya.
09-May-2026, Oleh: Wawan Hendrayana
Ditengah tren penguatan mata uang USD (United States Dollar) terhadap semua mata uang dunia termasuk Rupiah tentu menarik untuk berinvestasi dalam mata uang negara Amerika Serikat (AS) ini. Dengan potensi penurunan suku bunga The Fed yang lebih terbatas dan pertumbuhan ekonomi AS yang masih positif maka diperkirakan mata uang USD masih akan kuat dan bahkan dapat kembali terapresiasi, lalu bagaimana tren investasi dalam mata uang ini pada reksadana?